Tidak semua filsuf setuju dengan Filsafat Jawa. Beberapa kalangan mengkritiknya sebagai "Filsafat Pasrah" karena ajaran Nrimo (menerima) yang kerap disalahartikan sebagai fatalisme. Namun, dalam yang otentik (misalnya tulisan Ki Ageng Suryomentaram), Nrimo bukanlah menyerah. Ia adalah kesadaran tertinggi untuk membedakan mana yang bisa diubah dan mana yang harus dijalani dengan ikhlas.
Teliti dan kritis terhadap pengaruh luar yang bisa merusak moralitas. Kesimpulan FILSAFAT JAWA.pdf